Dakwah dengan Cara Kekerasan Sudah Dihentikan Sejak Zaman Al Faqih Muqaddam

Islam Media News.com, Jakarta ~ Ketua Umum Rabithah Alawiyah Sayyid Zen Umar bin Smith mengatakan, dakwah harus dilakukan secara santun karena terbukti lebih efektif.
“Berdakwalah yang lebih santun, dan selalu gunakan cara-cara yang sesuai adat istiadat masyarakat setempat,” kata Zen saat ditemui di kantor organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia ini, Sabtu (11/10).

Zen mengatakan, maraknya kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan agama dinilai tidak tepat. Berdakwah dengan cara kekerasan sebenarnya sudah ditinggalkan sejak zaman Al-Faqih Al-Muqaddam (1178-1232 M). Al Faqih merupakan keturunan ke-17 dari Rasulullah Muhammad SAW.

Menurut Zen, Al Faqih Al Muqaddam pada zamannya secara simbolis meninggalkan segala bentuk kekerasan dengan mematahkan pedangnya. Sejak saat itu, kata Zen, beliau telah masuk berdakwah melalui tasawwuf.
“Sejak Al Faqih Al Muqaddam mematahkan pedangnya itulah praktis tidak ada dakwah dengan cara kekerasan,” ujar Zen.
(detik.com)

Pimpinan MTA Halalkan Makan Cindil (Anak Tikus)

Islam Media News.com ~ Ketua Umum Majelis Tafsir Al-Qur'an (MTA) Ahmad Sukino diketahui kembali mengeluarkan fatwa kontroversialnya ketika menyatakan bahwa cindil atau anak tikus itu hukumnya halal kalau dimakan. Pernyataan tersebut bisa dilihat di video yang banyak beredar di media sosial seperti Youtube dan Facebook. Tidak diketahui pasti kapan tayangan video tersebut direkam. Namun dalam video tersebut terlihat dan terdengar jelas bagaimana Ustadz Sukino menyatakan kehalalan memakan cindil atau anak tikus.
Dalam video tersebut tampak salah seorang jama'ah MTA menanyakan beberapa pertanyaan kepada Ustadz Sukino.
Pertanyaan:
Jika orang menelan hidup-hidup binatang seperti cindil atau anak tikus itu bagaimana ustadz? Karena dalam hewan tersebut ada darah yang mengalir.

Jawab Ustadz Sukino:
Cindil tikus kamu makan ya agak susah lah, tapi coba celupkan sama kecap lalu buka mulut maka masuk sendiri. Itu pengobatan awur-awuran (ngawur). Kok punya pendapat begitu itu ilmu darimana? Apa pernah diselidiki kalau cindil tikus dimakan hidup-hidup itu kita jadi sehat? Malah nanti besar di ususmu bisa dimakan itu ususmu. Jadi jangan ditiru!
Tapi kalau perkara halal-haramnya ya HALAL saja karena tikus itu tidak perlu disembelih. Tikus kan tidak punya Nahr (leher), kalau masalah dimakan harus disembelih kan tikus apalagi cindil masih kecil bagaimana mau menyembelihnya.

Video selengkapnya bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=2ngj8u1IJj8 

Padahal tikus merupakan hewan yang haram dimakan. Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

“Ada lima jenis hewan fasiq (berbahaya) yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yaitu tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan kalb aqur (anjing galak).” (HR. Bukhari no. 3314 dan Muslim no. 1198)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Makna fasik dalam bahasa Arab adalah al khuruj (keluar). Seseorang disebut fasik apabila ia keluar dari perintah dan ketaatan pada Allah Ta’ala. Lantas hewan-hewan ini disebut fasik karena keluarnya mereka hanya untuk mengganggu dan membuat kerusakan di jalan yang biasa dilalui hewan-hewan tunggangan. Ada pula ulama yang menerangkan bahwa hewan-hewan ini disebut fasik karena mereka keluar dari hewan-hewan yang diharamkan untuk dibunuh di tanah haram dan ketika ihram.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 101)

Imam Nawawi berkata, “Diharamkan hewan yang dianjurkan untuk dibunuh seperti ular, kalajengking, burung gagak, hida-ah dan tikus.” (Minhajut Tholibin, 3: 340).

(abu umar)
Sumber: Suara Muslim

Ridwan, Anggota Isis Asal Indonesia Ditembak Mati di Suriah

Islam Media News.com, Solo ~ Ibunda Ridwan(26), Ngadilah (47) warga Semanggi RT 04 RW 06 Pasar Kliwon, Solo, yang dikabarkan tewas di Suriah belum lama ini, tak percaya anaknya ikut menjadi anggota ISIS yaitu kelompok Islamic State of Iraq and Syria. Ia juga tak mempercayai jika anaknya tersebut tewas di Suriah.

Meski Ngadilah membantah anaknya menjadi anggota ISIS namun ia mengaku tak mengetahui keberadaan anaknya saat ini.

“Anak saya memang tidak berada di rumah. Saya tidak percaya kalau anak saya ke Suriah dan ikut ISIS. Dulu, akhir Juli dia pamit akan merantau, mecari pekerjaan ke Semarang,” ujar Ngadilah, ketika ditemui wartawan.

Menurut Ngadilah, anaknya tersebut merupakan lulusan salah satu Pondok Pesantren di Kabupaten Boyolali. Waktu berpamitan, kata Ngadilah anaknya tersebut mengatakan hendak bekerja sebagai pengajar atau guru di salah satu Pondok Pesantren.

“Lebaran kemarin anak saya pulang ke rumah. Saya belum percaya kalau tiba-tiba kok bisa sampai Suriah,” katanya.

Meski demikian dia mengakui jika identitas berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Surat Ijin Mengemudi (SIM) C yang muncul di salah satu laman tersebut merupakan milik anak sulungnya. Dia berharap, kabar yang beredar tersebut tidak benar terjadi.

“Saya sulit untuk bisa percaya, bagaimana anak saya bisa sampai disana,” terangnya.

Adik kandung Ridwan, Yusuf Roni (15) mengaku bahwa kakaknya memang sering mengajar di sejumlah pondok pesantren. Di antaranya di Purwodadi, Aceh, Medan dan rencananya tahun ini pindah ke Semarang. Yusuf mengaku kaget mendengar kakaknya menjadi anggota ISIS yang dikabarkan meninggal di Suriah.

“Mas Ridwan itu mempunyai kepribadian yang baik dan pengertian, baik kepada kedua orang tua maupun adik-adiknya. Ia sering memberikan contoh teladan pada adik-adiknya termasuk saya,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Ridwan yang diduga menjadi salah satu anggota ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) asal Indonesia, dikabarkan tewas ditembak tentara Suriah dalam pertempuran di Suriah Barat belum lama ini. Berdasarkan identitas yang ditemukan, berupa KTP dan SIM, ia merupakan warga Semanggi RT.04/ RW.06, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta (Solo).

Sumber: Ummati Press

Dunia Islam Mestinya Tiru Indonesia

Islam Media News.com, Istanbul ~ Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Farida Farichah menyampaikan gagasan tentang peran perempuan di Indonesia pada forum 2nd General Assembly Islamic Conference Youth, sebuah forum yang berafiliasi dengan Organization Islamic Cooperation (OIC).

Pada forum yang berlangsung di Tower World Trade Center, Istanbul, Turki pada 9-11 Oktober tersebut, Farida menyampaikan kepada para delegasi bahwa Indonesia layak menjadi percontohan dunia Islam dalam memajukan peran perempuan.

Menurut dia, Indonesia memang bukan negara Islam, tapi jumlah umatnya terbesar. Salah satu karakteristik Islam Indonesia sangat menghargai hak-hak perempuan dan juga menjamin kebebasannya untuk berperan di ranah publik.

Indonesia, lanjut dia, pernah memiliki presiden perempuan. Semua ranah publik terbuka peluang untuk perempuan. Bahkan untuk ranah politik ada afirmasi 30% kuota perempuan dalam rangka medorong kaum perempuan untuk terjun di politik.

“Saya kira ini satu-satunya di dunia, dan saya menyarankan negara-negara Islam mencontoh Indonesia agar tidak terjadi ketimpangan sosial dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan,” katanya pada forum bertema 'Preserving Velues Rendering Future Beter' tersebut, melalui siaran pers yang diterima NU Online pada Sabtu (11/10).

Farida berpendapat bagaimana mungkin suatu negara dapat mewujudkan kehidupan yang adil dan sejahtera kalau setengah dari rakyatnya tidak dilibatkan dalam membangun negara tersebut.

Selain Farida, Indonesia mengirim delegasi dari berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Hadir juga perwakilan 48 negara dari 57 negara yang diundang. (Red: Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

Warga NU, Muhammadiyah, dan PUI Qurban Bersama

Islam Media News.com, Bandung ~ Bertepatan dengan moment Idul Adha, warga masyarakat Nahdatul Ulama, Muhammadiyah dan Persatuan Umat Islam (PUI), Jamaah Masjid Syahida, Cibiruhilir, RT 1/RW 1, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat bersama-sama menyelenggarakan penyembelihan hewan Qurban, Ahad (5/10). Meski berbeda organisasi masyarakat mereka tetap harmonis dan kompak.

Dari data yang dihimpun oleh NU Online, Panitia Qurban menerima tiga ekor sapi yang terdiri dari dua sapi dari hasil iuran 14 warga NU dan satu sapi dari warga Muhammadiyah. Sementara sebagian warga PUI turut ikut membantu dalam proses penyembelihan hingga pembagian daging kepada seluruh warga di RW tersebut.

Menurut Ketua RW 1 Cibiruhilir, Dudang Gojali, masyarakat setempat memang memiliki rasa toleransi dan kebersamaan yang tinggi.  “Seperti saat ini masyarakat Cibiruhilir paham kapan saatnya bersama, terutama saat Hari Raya Qurban  tanpa membedakan organisasi masing-masing,” kata Dudang saat ditemui NU Online di masjid Syahida.

Karena bagi masyarakat Cibiruhilir, lanjutnya, Qurban itu sifatnya universal, ditambah warganya memang relatif mengerti tentang pemahaman agama sehingga perbedaan bukanlah menjadi halangan.

Dudang menambahkan,  sesungguhnya keharmonisan dan kekompakan merupakan esensi dan spirit Idul Adha. Hasilnya, baik yang berqurban maupun yang tidak berqurban sama-sama mempunyai hak untuk menikmati dan merayakan.

“Lalu  spirit tersebut membuahkan kebersamaan dan kesuciaan untuk manusia. Masyarakat disini paham bahwa menjalin hubungan antara manusia adalah prinsip paling dasar dari beragama,” terang ketua RW yang juga Pengurus Lakpesdam PWNU Jabar itu.

Dikatakan, masyarakat Cibiruhilir mengerti musuh utama mereka adalah sekelompok orang yang  anti-kemanusiaan. Jadi saat ada yang membawa pesan kemanusiaan, maka masyarakat harus satu, misalnya saat kerja bakti, peringatan hari besar Islam, musibah, dan lain-lain.

Masyarakat sudah memberi contoh yang baik, tapi kadang-kadang pemimpin di pemerintahan tidak memberikan contoh yang baik. Dudang berharap para pemimpin dapat belajar dari  masyarakat Cibiruhilir. Hemat dia, masyarakat sebenarnya tidak terlalu memikirkan perbedaan, tapi mereka hanya ingin tenang, sejahtera, keamananan dan ketertiban di dalam berbangsa dan bernegara.

“Justru para elite yang saling bertengkar lantaran perbedaan. Seharusnya  para pemimpin harus hadir dan belajar langsung dari  masyarakat, lalu memberikan contoh atau suri tauladan,” ujar Ketua Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Sumber: NU Online

Polisi Israel Siaga: Hari Besar Yahudi dan Idul Adha Bersamaan

Islam Media News.com ~ Polisi Israel dalam kondisi siaga tinggi untuk mencegah kemungkinan bentrokan Yahudi dan Muslim yang memperingati hari besar agama mereka, Yom Kippur dan Idul Adha, yang tumpang tindih tahun ini, seperti dilaporkan oleh al arabiya.

Juru bicara Kepolisian Luba Samri mengatakan pasukan polisi dikerahkan di seluruh Israel. Ada minoritas besar Muslim di empat kota Israel penting: Yerusalem, kota kembar Tel Aviv Jaffa - Yafo dalam bahasa Ibrani - dan juga di Haifa dan Acre.

Yom Kippur, hari suci Yudaisme, dimulai saat matahari terbenam Jumat dan berakhir pada Sabtu malam.

Idul Adha, liburan tiga hari yang dimulai Sabtu, adalah kesempatan untuk perayaan keluarga dan acara. Ini memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anaknya sesuai dengan kehendak Allah. (mukafi niam)

Sumber: NU Online

Dilema Muslim India di Idul Adha

Islam Media News.com ~ Pada periode menjelang perayaan, sebagian besar umat Islam berbondong-bondong mencari hewan terbaik untuk persembahan terbaik, seperti domba, kambing dan sapi. Persembahan yang khusus didedikasikan untuk umat Muslim diseluruh dunia di satu hari yang istimewa, Idul Adha itulah salah satu perayaan yang dinantikan umat Muslim.

Pada hari itu, hewan kurban termasuk sapi menjadi bintang utama, mereka berbaris, dan terdapat berbagai ukuran dari, kecil, sedang, hingga besar. Bahkan, bermacam pula warna-warna hewan itu, dari putih, coklat, hitam hingga belang. Semua adalah persembahan terbaik dari umat terbaik.

Namun, apa yang terlihat itu tidak nampak pada perayaan Idul Adha bagi muslim India. Dimana, jutaan  muslim India tidak dapat merasakan hal yang dirasakan muslim lainnya, seperti menunggu giliran pemotongan hewan kurban mereka dan berharap persembangan mereka membahagiakan yang lainnya. Hal itu tidak  berlaku bagi pemotongan hewan kurban sapi, mengingat hewan itu adalah hewan suci umat Hindu.

Tak hanya umat Muslim India yang kurang merasakan hikmat Idul Adha, tetapi para pedagang sapi pun mengalami kerugian. Ramzan Ali, seorang pedagang sapi pun mengalami kerugian yang besar. Pasalnya, beberapa bulan lalu, aktivis Hindu mengkampanyekan anti pembantaian terhadap sapi.

Kampanye itu pun terus menyebar ke seluruh daratan India. "Banyak umat muslim yang khawatir dan takut pada aktivis Hindu apabila membeli sapi untuk berkurban," ujar Ali, seperti yang dilaporkan OnIslam.


Ali menceritakan, kegelisahan warga muslim jika ditawari hewan kurban sapi ataupun kerbau. Bahkan, mereka pun tak menyediakan waktu untuk melihat-lihat sapi miliknya, sebelum membeli hewan kurban lainnya. "Saat ini adalah masa sulit,".

Tahun ini, ritual agama Islam dalam masa yang krusial. Hal ini tak hanya terjadi ketika menjelang Idul Adha, tetapi perayaan Idul Fitri lalu pun mendapatkan kecaman aktivis Hindu apabila umat Muslim menyembelih sapi. Bahkan, peristiwa ini juga memicu terjadinya serangan terhadap para pedagang sapi oleh para kelompok aktivis Hindu.

Kasus ini bahkan lebih buruk di Hyderabad, sebuah kota di India selatan. Yang mana, penduduk muslim yang berdiam di kota bersejarah itu tidak dapat menyembelih sapi maupun kerbau. Sehingga, mereka hanya bisa membeli domba atau kambing. Sangat terbayang apabila satu keluarga memiliki lebih dari empat anggota keluarga.

"Sekarang, pihak kepolisian pun telah memberlakukan larangan pengorbanan hewan-hewan ini selama Idul Adha. Padahal, hari itulah umat Muslim memperingati pelaksanaan perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim dengan menyembelih sapi, unta, kerbau ataupun kambing." jelas Ali. 

Sumber:  Republika Online

Wukuf Arafah Bukan Penentu Idul Adha

Islam Media News.com, Jakarta ~ Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Prof. KH. Ali Mustofa Yaqub, menyatakan wukuf di Arafah bukanlah patokan jatuhnya hari raya Idul Adha.


Dia menyatakan masyarakat kerap beranggapan ketika Umat Islam yang menunaikan Ibadah Haji berwukuf di arafah maka umat Islam di seluruh dunia melaksanakan puasa sunnah arafah. Keesokan harinya berarti hari raya Idul Adha.


"Tidak seperti itu ijtihadnya," jelas Ali Mustofa Yaqub, kepada Republika, Kamis 925/9).


Yang menjadi patokan adalah awal Dzulhijah. Di Arab Saudi, awal Dzulhijah jatuh lebih cepat dibandingkan di Indonesia. "Karena hilal sudah tampak melalui ru'yah," imbuhnya.


Sedangkan di Indonesia, hilal belum tampak. "Akhirnya kita sempurnakan Dzulhijah menjadi 30 hari," paparnya.


Pihaknya membenarkan bahwa 10 Dzulhijah jatuh pada 5 Oktober.


Meskipun wukuf di Arafah jatuh pada 3 Oktober, bukan berarti pada tanggal empatnya dilaksanakan Idul Adha. "Ingat, patokannya hilal."


Ali Mustofa menceritakan pengalaman sahabat Rasulullah atau atsar, yang menjelaskan suatu ketika Sahabat Rasulullah, Ibnu Abbas, mengutus sahabat lainnya, Qurayb, mengunjungi Damaskus untuk menemui Muawiyah. Di sana sudah berpuasa Ramadhan.


Kemudian Qurayb berkata kepada Ibnu Abbas, di sana sudah berpuasa, apakah di sini juga harus berpuasa.


"Ibnu Abbas kemudian mengutip hadits Rasulullah riwayat Muslim, yang mengatakan likulli baldatin ru'yatuha," jelas Ali Mustofa. Artinya, setiap negeri memiliki ru'yatnya sendiri. Tidak bisa disamakan antara ru'yat di Makkah dengan di Indonesia.

Sumber: Republika

MUI: Jangan Bingung Soal Puasa Arafah, Rujuk Ketetapan Pemerintah

Islam Media News.com, Jakarta ~ Penetapan Idul Adha antara pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi berbeda. Potensi masalah yang bakal muncul adalah, pelaksanaan puasa Arafah (9 Zulhijah). Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat tidak bingung dan konsisten jika merujuk pada ketetapan pemerintah.


Pemerintah Indonesia melalui sidang isbat 24 September lalu menetapkan Idul Adha 2014 (10 Zulhijah) jatuh pada Minggu, 5 Oktober. Sehingga puasa Arafah dilaksanakan pada Sabtu, 4 Oktober. Umumnya puasa Arafah ini dikenal masyarakat sebagai ibadah yang berbarengan dengan kegiatan wukuf jamaah haji di Arab Saudi.

Potensi masalah muncul ketika pemerintah Saudi melalui ummul qura menetapkan Idul Adha 2014 jatuh pada Sabtu, 4 Oktober. Sedangkan wukuf di Padang Arafah dilaksanakan pada Jumat, 3 Oktober.


Itu artinya ketika masyarakat Indonesia, yang merujuk keputusan pemerintah, menjalankan puasa Arafah pada Sabtu, 4 Oktober, jamaah haji di Saudi sudah melaksanakan wukuf. Jadi tidak ada kecocokan hari antara puasa Arafah versi pemerintah Indonesia dengan pelaksanaan wukuf di Padang Arafah.


MUI mencoba menengahi potensi polemik itu. Pimpinan MUI pusat Anwar Abbas mengatakan, patokan pelaksanaan puasa Arafah itu adalah dilaksanakan pada 9 Zulhijah.
"Apakah itu 9 Zulhijah-nya jatuh pada 3 Oktober atau 4 Oktober, mengacu pada keputusan yang dipilih masyarakat masing-masing," jelas dia kemarin.


Ketika masyarakat berkeyakinan atau mengikuti keputusan pemerintah bahwa Idul Adha (10 Zulhijah) jatuh pada Minggu, 5 Oktober, maka tetap melaksanakan puasa Arafah pada Sabtu, 4 Oktober. Masyarakat tidak perlu risau, meski pada 4 Oktober itu jamaah haji sudah selesai menjalankan wukuf.


Dia menegaskan bahwa pelaksanaan puasa Arafah bukan ibadah puasa yang mengacu pada pelaksanaan wukuf. Tetapi ibadah puasa yang dilaksanakan setiap 9 Zulhijah. Abbas memberikan contoh ekstrim. Misalnya di Makkah, khususnya di Arafah terjadi bencana alam besar sampai-sampai wukuf tidak bisa dilaksanakan.
"Kalau itu terjadi, apakah kita lantas tidak puasa Arafah? Ya kita tetap puasa Arafah. Karena puasa Arafah tidak terkait dengan pelaksanaan wukuf," jelasnya.


Menurutnya tim ummul qura yang dibentuk pemerintah Saudi itu juga merupakan kumpulan ulama. Sehingga, tidak menutup perbedaan dalam menetapkan tanggal-tanggal hijriyah dengan negara lainnya.


Anwar menuturkan di Indonesia ada tiga kelompok ormas Islam yang berbeda-beda dalam menetapkan Idul Adha 2014. Pertama adalah versi pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode imkanur rukyat, menetapkan Idul Adha jatuh pada 5 Oktober.
Kemudian kelompok Muhammadiyah dan ormas lain yang menggunakan sistem hisab, menetapkan Idul Adha jatuh pada 4 Oktober.


Kemudian ada kelompok lain yang patokannya mengacu pada keputusan pemerintah Saudi. Ketika pemerintah Saudi menetapkan Idul Adha jatuh pada 4 Oktober, kelompok ini serta merta mengikutinya. "Misalnya teman-teman di LDII atau Persis," katanya.


Terkait perbedaan penetapan tanggal jatuhnya Idul Adha itu, Anwar meminta masyarakat tetap menjaga toleransi. Baik itu NU, Muhammadiyah, maupun ormas-ormas Islam lainnya sudah memiliki landasan keyakinan masing-masing.


Sementara itu Menag sekaligus amirrulhaj Lukman Hakim Saifuddin terus mengecek layanan jamaah. Di antara yang menjadi fokus pengecekannya adalah layanan kesehatan menyongsong Armina.
Menurut Lukman, persiapan layanan kesehatan sudah baik. "Karena sudah disiapkan sejak lama," katanya kemarin kepada tim Media Center Haji (MCH) Kemenag di Makkah.


Lukman lantas menuturkan, selama ini pemerintah menginginkan area wukuf untuk jamaah Indonesia di Arafah diperluas. Untuk mewujudkannya, pemerintah terus menjalin komunikasi dengan muasasah bagian Arafah dan Mina. Pertimbangan permohonan perluasan area karena jamaah dari Indonesia sangat besar, sedangkan selama bertahun-tahun space milik Indonesia sangat terbatas alias sempit.


"Kami inginnya mulai tahun ini ada tambahan area wukuf," jelas Lukman. Untuk itu dia terus menunggu keputusan dari muasasah. "Mudah-mudahan ada pemahaman dari muasasah."


Selain itu, Lukman juga menginginkan mobil ambulans Indonesia mendapatkan izin keluar-masuk wilayah Armina sewaktu-waktu. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi jika ada jamaah yang mendadak perlu dirujuk ke rumah sakit.
Layanan kesehatan jamaah yang cukup memadai adalah Balai Pengobatan Haji Indonesia (setara RS tipe C), berada di Makkah. Sedangkan jarak dari Arafah ke Makkah sekitar 22,4 km. (wan/end)
Sumber: di sini

Minta Maaf, Kemenag Tarik Buku Berisi Ziarah Sebagai Berhala

Islam Media News.com, Jakarta ~ Direktur Pendidikan Madrasah Nur Kholis Setiawan mengucapkan terima kasih banyak atas masukan dari masyarakat terkait dengan beredarnya buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) berbau SARA, yang menyebutkan menziarahi wali sama dengan berhala dan sekaligus meminta maaf atas keteledoran yang dilakukan.


“Kami meminta maaf dengan sepenuh hati atas kekurangcermatan pada proses proof-reading pada halaman tersebut,” katanya.

Ia menegaskan, dirinya sebagai direktur pendidikan madrasah yang paling bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. “Saya yang paling bertanggung jawab,” tegasnya. Dan ia secara gentleman menyatakan siap jika pimpinan memberi sanksi. Pihaknya tidak pernah sediki pun terbersit untuk menyakiti organisasi masyarakat (ormas) atau umat Islam, atau agama lain di Indonesia.

“Saya sangat paham, kalau mengunjungi makam wali dianggap saja dengan menyembah berhala, pasti sangat tersinggung,” paparnya.

Selanjutnya, Direktorat Pendidikan Madrasah telah menginstruksikan aparatur di daerah untuk menarik kembali Buku Pedoman Guru Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII Madrasah Tsanawiyah dan akan menggantikan dengan edisi revisi.

Ia menambahkan, diperlukan proses cetak ulang selama tiga hari untuk mengganti halaman 14 dalam buku tersebut sehingga dalam waktu dua minggu buku baru sudah sampai ke tangan para guru. Edisi yang ditarik tersebut berjumlah 15 ribu, sesuai dengan jumlah guru SKI.

Ia menegaskan bahwa Kemenag merupakan institusi negara sehingga harus bisa memayungi seluruh kelompok keislaman yang ada di Indonesia. Karena itu, dalam buku tersebut diberi pilihan seperti doa qunut ketika shalat subuh bagi yang menjalankan juga ada tuntunannya, demikian pula berbagai ragam bacaan yang berbeda-beda sesuai dengan madzab yang diikuti.

“Kita menghindari pembahasan masalah khilafiyah yang bisa menyebabkan disharmoni karena masing-masing juga dasar hukum,” paparnya.

Tim Kemenag, katanya, telah bekerja keras melakukan revisi selama berulang kali atas buku tersebut, tapi ternyata masih ada satu halaman yang terlewatkan. Di draft awal buku tersebut, terdapat materi khilafah Islamiyah, tidak ada opsi untuk doa qunut ketika shalat subuh, pembid’ahan kepada amalan tertentu dan lainnya, dan semuanya sudah dilakukan revisi dengan melibatkan para akademisi yang kompeten.

“Masa ada materi khilafah Islamiyah, ini kan kontraproduktif dengan sistem NKRI,” katanya memberi contoh.

Sebagai dokumen yang “hidup” Nur Kholis menyatakan, Kemenag siap menerima masukan yang belum terwadahi dan akan dimasukkan dalam revisi pada tahun berikutnya. (mukafi niam)


Sumber: di sini

Nekat, Kemenag Banyumas Tak Mau Tarik Buku SKI

Islam Media News.com, Banyumas ~ Beberapa pekan terakhir, Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Indonesia digegerkan dengan munculnya sebuah tulisan "Berhala sekarang adalah kuburan para wali" pada buku panduan guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTs).


Kalimat ini dinilai memicu sentimen Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Ujungnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan permintaan maaf kepada publik dan mencabut buku tersebut dari peredaran.


Namun, Kantor Kementerian Agama (Kemenang) Banyumas, mempunyai sikap lain. Kepala kantor Kemenag, Bambang Sucipto mengatakan, buku kurikulum 2013 cetakan PT Macanan Jaya Cemerlang Klaten tersebut sudah dalam proses pendistribusian dan tetap akan diedarkan.


"Kami meminta penerbit tidak menarik buku tersebut dari peredaran karena buku tersebut bukan termasuk pegangan siswa, namun panduan bagi guru pengajar," ujar Bambang beberapa waktu lalu.

Menurutnya, jika buku ini ditarik dari peredaran, maka akan memakan waktu cukup lama. "Sebenarnya tinggal bagaimana cara guru menyampaikan kepada anak didiknya saja, saya rasa guru cukup selektif dalam menyampaikan materi SKI ini," jelasnya.

Kantor Kementerian Agama Banyumas, kata Bambang, akan mengusulkan kepada Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam Kemenag RI mengoreksi buku terbitannya itu.

Terpisah, Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Purwokerto, Ilhamudin meminta buku tersebut segera ditarik dari peredaran.

"Kami mendesak Kemenag Banyumas segera menarik buku ini dari edaran, sebab hal ini akan menghegemoni dunia pendidikan," ungkapnya.

Kepala MTs Ma'arif Nu Al-Hidayah Purwokerto, Charis Munandar mengatakan, meski buku SKI belum sampai di tangan guru, namun aktifitas pembelajaran masih efektif.

Menurutnya, materi pelajaran yang memberikan pengetahuan terkait sejarah dan kebudayaan Islam itu sudah disampaikan sejak awal masuk menggunakan soft copy yang di download oleh guru setempat.

"Jika ada tulisan yang mengandung SARA dalam LKS atau buku, guru pasti punya inisiatif tanggap cepat dan mengantisipasinya," ujar sekretaris Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Banyumas ini. (Agus Riyanto/Anam)

Sumber:  Di sini
Diberdayakan oleh Blogger.