Sepuluh Wasiat Allah Untuk Nabi Musa

Islam Media News.com ~ Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan kepada sanadnya dari Jabir bin Abdillah r.a. berkata Rasulullah S.A.W bersabda : "Allah S.W.T. telah memberikan kepada Nabi Musa bin Imran a.s. dalam alwaah 10 bab :

Wahai Musa jangan menyekutukan aku dengan suatu apa pun bahwa aku telah memutuskan bahwa api neraka akan menyambar muka orang-orang musyrikin.

Taatlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu nescaya Aku peliharamu dari sebarang bahaya dan akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku hidupkan kamu dengan penghidupan yang baik.

Jangan sekali-kali membunuh jiwa yang Aku haramkan kecuali dengan hak nescaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang luas dan langit dengan semua penjurunya dan akan kembali engkau dengan murka-Ku ke dalam api neraka.

Jangan sekali-kali sumpah dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan membersihkan orang yang tidak mensucikan Aku dan tidak mengagung-agungkan nama-Ku.

Jangan hasad dengki dan irihati terhadap apa yang Aku berikan kepada orang-orang, sebab penghasut itu musuh nikmat-Ku, menolak kehendak-Ku, membenci kepada pembahagian yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku dan sesiapa yang tidak meninggalkan perbuatan tersebut, maka bukan daripada-Ku.

Jangan menjadi saksi terhadap apa yang tidak engkau ketahui dengan benar-benar dan engkau ingati dengan akalmu dan perasaanmu sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka.

Jangan mencuri dan jangan berzina isteri jiran tetanggamu sebab nescaya Aku tutup wajah-Ku daripadamu dan Aku tutup pintu-pintu langit daripadanya.

Jangan menyembelih korban untuk selain dari-Ku sebab Aku tidak menerima korban kecuali yang disebut nama-Ku dan ikhlas untuk-Ku.

Cintailah terhadap sesama manusia sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri.

Jadikan hari Sabtu itu hari untuk beribadat kepada-Ku dan hiburkan anak keluargamu. Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda lagi : "Sesungguhnya Allah S.W.T menjadikan hari Sabtu itu hari raya untuk Nabi Musa a.s. dan Allah S.W.T memilih hari Juma'at sebagai hari raya untukku."

Cara Berbakti Kepada Orangtua Yang Telah Wafat

Islam Media News.com ~ Tahukah Anda bahwa tugas kita untuk berbakti kepada orangtua tidaklah berakhir hanya karena mereka telah wafat. Ada beragam cara yang bisa dilakukan seorang anak terhadap orang tuanya yang telah meninggal dunia. Mendoakan orang tua, memohonkan ampunan atas dosa-dosanya kepada Allah Swt, menepati janji dan nadzar keduanya, memelihara silaturahim dengan sahabat keduanya, dan menziarahi kubur keduanya termasuk amalan-amalan yang dikategorikan sebagai al-bir kepada orang tua yang telah meninggal dunia.

Mendoakan, menepati janji dan nadzar Orang Tua

Abi Asied bin Malik bin Rabi’ah As Sa’idi berkata: “Ketika kami sedang duduk-duduk di Majelis Rasulullah Saw, tiba-tiba ada seorang dari Bani Salamah bertanya: ‘Ya Rasulullah, apakah sesudah ibu-bapakku meninggal dunia, masih ada sisa bakti yang dapat aku persembahkan kepada keduanya...?”

Baginda Saw mengangguk, mengiyakan dan bersabda: “Ya, dengan jalan mengirimkan doa untuk keduanya, memohonkan ampun, menepati janji dan nadzar yang pernah diikrarkan ibu-bapakmu, memelihara hubungan silaturahiim dan memuliakan sahabat keduanya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ibnu Habban dalam Shahih-nya)

Dari Anas bin Malik,ra, katanya Rasulullah saw bersabda: “Sungguh seorang hamba ditinggal pergi oleh salah seorang atau oleh kedua ibu-bapaknya, sedang dia dalam keadaan durhaka. Namun sang anak senantiasa berdoa dan memohonkan ampun bagi keduanya, sehingga Allah menetapkannya sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Dalam hadits yang lain dikatakan: “Permohonan ampun seorang anak untuk ayahnya sesudah meninggal dunia, termasuk baktinya.” (HR. Ibnu Najjar, dikisahkan oleh Malik bin Zurarah ra.)

Dibawakan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh seseorang dapat naik kelasnya di surga!”, lalu ia bertanya keheranan: “Ya Rasulullah, darimana saya mendapatkan tempat setinggi itu?”, lalu Rasul menjawab: “Dengan permohonan ampun anakmu untuk dirimu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi).

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw pernah bersabda: “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah segala amal perbuatannya, kecuali dari tiga sumber: Sedekah Jariyah, ilmu yang dimanfaatkan orang, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

Membina Hubungan Baik dengan Kawan Ibu-Bapak

“Saya datang ke Madinah, kata Abu Burdah ra, lalu Abdullah bin Umar ra datang menemui saya seraya bertanya: “Tahukah engkau mengapa saya menemuimu?” “Tidak”, jawabku dengan jujur. Lalu ia menjelaskan: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang ingin berhubungan dengan ayahnya yang telah wafat, hendaknya dia menghubungi kenalan dan saudara-saudar ayahnya, sesudah ayahnya meninggal”. Kebetulan antara Umar ayahku, dan ayahmu terjalin persaudaraan yang akrab sekali, maka saya ingin melanjutkan hubungan baik itu” (HR. Abdur Razzaq dan Ibnu Habban dalam Shahih-nya)

Dikisahkan oleh Abdullah bin Dinar, dari Abdullah bin Umar ra, bahwa ada seorang Badui yang dijumpainya di jalan di kota Makkah. Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepadanya, menyuruhnya menaiki keledainya, dan mengenakan sorban yang dipakainya kepada orang Badui itu. Ibnu Dinar berkata kepada Ibnu Umar: “Allah akan mengganjar budi baikmu itu. Orang-orang Badui itu telah menerima kebaikan, meski sedikit”. Lalu Abdullah bin Umar berkata, “Aku berbuat begitu karena ayah orang itu sangat akrab dengan ayahku Umar, dan saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya bakti anak yang paling utama adalah hubungan baik si anak dengan keluarga kawan baik ayahnya”. (HR. Muslim)

Berziarah ke Kubur Ibu-Bapak

Abu Hurairah ra, seorang sahabat Rasul Saw yang banyak hafal hadits berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berziarah ke kubur kedua orang tuanya, atau salah seorang dari keduanya pada tiap hari Jumat, maka dosanya akan diampuni Allah dan ia dinyatakan sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.” (HR. At-Thabrani dalam Al-Ausath)

Muhammad bin Nu’man berkata, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “Barang siapa yang berziarah ke kubur kedua orang tuanya, atau salah seorang dari keduanya, pada tiap hari Jumat, maka dosanya diampuni dan dinyatakan sebagai anak yang berbakti.” (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam “Asy-Syu’ab” dan oleh Ibnu Dunya dalam “Al Qubur”).
 

Ajaran Berderma

Islam Media News.com ~ Suatu saat Dzun Nun al-Mishri melakukan perenungan di hutan, diiringi seorang murid setianya. Mereka mendapati seekor burung yang tiada daya untuk terbang, karena sayapnya patah. Burung itu hanya bisa menggelepar-gelepar di tanah. Selang beberapa saat kemudian, datang burung yang lain membawakan makanan baginya. Burung yang patah sayapnya pun, tanpa perlu repot-repot mencari makanan, dapat makan kenyang berkat jasa kawannya.

Menyaksikan kejadian langka itu, si murid termenung dan berpikir keras untuk menggali pelajaran yang dapat dipetik. ''Ternyata, tanpa harus berusaha mencari makanan sekalipun, kita dapat bertahan hidup berkat jasa orang lain. Alangkah rahmatnya Allah SWT kepada setiap makhluknya,'' simpulnya.

Sebagai seorang waliyullah, Dzun Nun al-Mishri bisa merasakan apa yang direnungkan oleh muridnya. Dia pun berkata padanya, ''Seharusnya kamu tidak berpikir menjadi burung yang patah sayap itu. Tapi, berpikirlah menjadi burung yang memberi makan, yang dapat menolong saudaranya.''

Ucapan Dzun Nun al-Mishri ini mengingatkan kita pada sabda Nabi SAW, ''Al-yadd al-ulya khair min al-yadd al-sufla.'' (HR al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim ditambahkan, yang dimaksud al-yadd al-ulya adalah al-munfiqah (pemberi sedekah) dan al-yadd al-sufla adalah al-sailah (peminta atau penerima).

Itulah ajaran Islam. Islam mengajarkan pemeluknya untuk menjadi penderma dan penolong bagi yang membutuhkan. Ini tecermin misalnya dari ajaran zakat (al-Baqarah: 43, 83, dan 110; al-Ahzab: 33; al-Mujadilah: 13; dan lain-lain). Malah, zakat dijajarkan sebagai pilar rukun Islam. Ini menunjukkan, menolong orang yang membutuhkan, mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam.

Menariknya lagi, seperti janji Allah SWT dalam QS Saba' ayat 39, kendati kita banyak bederma, itu tidak akan mengurangi harta kita. Allah SWT akan mengganti dan malah menambahnya. Allah SWT berfirman, ''Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.''

Tapi, di sisi lain, Allah SWT juga menantang kita untuk mendermakan barang-barang yang paling kita cintai. Allah SWT berfirman, ''Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.'' (Ali Imran ayat 92).

Ini tantangan yang berat bagi kita. Karena, mendermakan barang yang kita cintai, membutuhkan kesadaran beragama yang baik dan pengorbanan yang tulus. Itulah tantangan dan ujian bagi orang beriman. Tinggal kita yang harus membuktikan bahwa kita termasuk orang yang berhak meraih gelar al-birr, melalui berbagai derma. Wallah a'lam.


Nurul Huda Maarif

Berpakaian Tapi Telanjang

Islam Media News.com ~ Imam Al-Bayhaqi RA meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah masuk ke kamar Aisyah binti Abu Bakar, istrinya. Sementara itu, Aisyah bersama saudara perempuannya, Asma binti Abu Bakar, mengenakan pakaian tipis. Ketika Rasulullah melihatnya, beliau segera bangkit dan kemudian keluar kamar. Aisyah heran dan kemudian menanyakannya pada Rasulullah.

Rasulullah menjawab, ''Tidakkah engkau melihat keadaannya? Ia seperti bukan wanita muslimah yang seharusnya hanya menampakkan ini dan ini [seraya menunjuk pada wajah dan kedua telapak tangan].''

Riwayat lain, dari Imam Abu Daud, Rasulullah saw bersabda, ''Jika seorang anak wanita telah mencapai usia balig, tidak pantas terlihat dari dirinya, selain wajah dan kedua telapak tangannya.''

Selain hadis-hadis tersebut di atas, Alquran juga menjelaskan tentang masalah tersebut (aurat wanita), seperti tertera dalam surat An-Nur: 31 dan Al-Ahzab: 59. Begitu gamblangnya Allah SWT memberikan petunjuk kepada umat manusia yang dibekali dengan akal, khususnya kaum wanita.

Ironisnya, kondisi kaum wanita (muslimah) sekarang ini jauh dari petunjuk tersebut. Betapa suguhan-suguhan televisi dominan dengan tontonan aurat. Dalam kehidupan nyata, keadaan tersebut tidak jauh berbeda, mereka berpakaian, tetapi keadaannya tidak berbeda dengan telanjang.

Akhirnya, banyak penduduk negeri ini, yang mayoritas Muslim, pun terbiasa dengan kondisi tersebut sehingga menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah, yang tidak perlu diubah. Justru kalau ada yang gerah dengan kondisi tersebut, orang tersebut malah dianggap aneh atau konservatif.

Kalau dicermati, masalah ketelanjangan itu tidak berhenti sampai di situ. Secara tidak langsung, hal tersebut juga menyuburkan pergaulan bebas, dan lebih jauh lagi adalah terjadinya dekadensi akhlak. Jumlah bayi yang lahir di luar nikah semakin bertambah dan masih banyak lagi dampak-dampak negatif lainnya sebagai akibat pemameran aurat wanita.

Tentu saja kondisi ini jauh dari gambaran kehidupan di zaman Rasulullah yang menjaga kehormatan wanita. Tidak hanya oleh wanita sendiri, tetapi juga negara karena salah satu tugas negara adalah menjaga akhlak dan agama rakyatnya, sehingga tercipta masyarakat Islam yang diberkahi oleh Allah SWT. Keadaan ini tidak hanya sejarah masa lalu, tetapi bisa kita wujudkan pada masa sekarang, tentunya dengan berpegang teguh pada tuntunan Rasulullah saw, yaitu Alquran dan Sunnah. Wallaahu a'lam bisawab 

K. Ariyah

Adab Bertetangga

Islam Media News.com ~ Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara baik. Bahkan, saking seringnya Jibril mewasiatkan agar bertetangga dengan baik, Rasulullah pernah mengira tetangga termasuk ahli waris. Kata Rasulullah, seperti diriwayatkan oleh Aisyah, ''Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya.'' (HR Bukhari-Muslim).

Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum, dan mengirimkan hadiah. Sabda Rasulullah SAW, ''Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.'' (HR Muslim).

Lihatlah, betapa ringan ajaran Rasulullah, namun dampaknya sangat luar biasa bagi kerukunan dan keharmonisan kita dalam bermasyarakat. Untuk memberi hadiah tidak harus berupa bingkisan mahal, tapi cukup memberi sayur yang sehari-hari kita masak.

Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga, Rasulullah juga memerintahkan untuk saling menenggang perasaan masing-masing. ''Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,'' kata Rasulullah, ''maka hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya.'' (HR Bukhari).

Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang seorang wanita yang dikenal rajin melaksanakan shalat, puasa, dan zakat, tapi ia juga sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah menegaskan, ''Pantasnya dia di dalam api neraka!''

Kemudian, sahabat itu bertanya lagi mengenai seorang wanita lain yang dikenal sedikit melaksanakan shalat dan puasa, namun sering berinfak dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Jawab Rasulullah, ''Ia pantas masuk surga!'' (HR Ahmad).

Seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya. Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, ''Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman ...!''

Sahabat bertanya, ''Siapa, ya Rasulullah?''
Beliau menjawab, ''Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya.'' (HR Bukhari).

Suatu kali, Aisyah pernah bingung mengenai siapa di antara tentangganya yang harus diutamakan. Lalu, ia bertanya kepada Rasulullah, ''Ya Rasulullah, saya mempunyai dua orang tetangga, kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?'' Beliau bersabda, ''Kepada yang paling dekat rumahnya.'' (HR Bukhari).

Rasulullah menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai acuan penilaian kebaikan seseorang. Kata beliau, ''Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.'' (HR Tirmidzi).

Didik Haryanto

Masuk Neraka Gara-gara Air Wudhu?

Islam Media News.com ~ Berikut ini adalah cerita tentang dua orang dengan kondisi yang kontras: seorang laki-laki kaya raya dan perempuan papa. Dalam keseharian pun, keduanya tampak begitu berbeda. Sang lelaki hidupnya padat oleh kesibukan duniawi, sementara wanita yang miskin itu justru menghabiskan waktunya untuk selalu beribadah.


Kesungguhan dan kerja keras lelaki tersebut membawanya pada kemapanan ekonomi yang diidamkan. Kekayaannya tak ia nikmati sendiri. Keluarga yang menjadi tanggung jawabnya merasakan dampak ketercukupan karena jerih payahnya. Lelaki ini memang sedang berkerja untuk kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.


Nasib lain dialami si perempuan miskin. Para tetangganya tak menemukan harta apapun di rumahnya. Kecuali sebuah bejana dengan persediaan air wudhu di dalamnya. Ya, bagi wanita taat ini, air wudhu menjadi kekayaan yang membanggakan meski hidup masih pas-pasan. Bukanah kesucian menjadikan ibadah kita lebih diterima dan khidmat? Dan karenanya menjanjikan balasan yang jauh lebih agung dari sekadar kekayaan duniawi yang fana ini?


Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam kitab al-Minahus Saniyyah mengisahkan, suatu ketika ada seorang yang mengambil wudhu dari bejana milik perempuan itu. Melihat hal demikian, si perempuan berbisik dalam hati, “Kalau air itu habis, lalu bagaimana aku akan berwudhu untuk menunaikan sembahyang sunnah nanti malam?”

Apa yang tampak secara lahir tak selalu menunjukkan keadaan sebenarnya. Diceritakan, setelah meniggal dunia, keadaan keduanya jauh berbeda. Sang lelaki kaya raya itu mendapat kenikmatan surga, sementara si perempuan papa yang taat beribadah itu justru masuk neraka. Apa pasal?


Lelaki hartawan tersebut menerima kemuliaan lantaran sikap zuhudnya dari gemerlap duniawi. Kekayaannya yang banyak tak lantas membuatnya larut dalam kemewahan, cinta dunia, serta kebakhilan. Apa yang dimilikinya semata untuk kebutuhan hidup, menunjang keadaan untuk mencari ridla Allah.

Pandangan hidup semacam ini tak dimiliki si perempuan. Hidupnya yang serbakekurangan justru menjerumuskan hatinya pada cinta kebendaan. Buktinya, ia tak mampu merelakan orang lain berwudhu dengan airnya, meski dengan alasan untuk beribadah. Ketidakikhlasannya adalah petunjuk bahwa ia miskin bukan karena terlepas dari cinta kebendaan melainkan “dipaksa” oleh keadaan.

Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani menjelaskan dalam kitab yang sama bahwa zuhud adalah meninggalkan kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, tapi bukan berarti mengosongkan tangan dari harta sama sekali. Segenap kekayaan dunia direngkuh untuk memenuhi kadar kebutuhan dan memaksimalkan keadaan untuk beribadah kepada-Nya.
 
Nasihat ulama sufi ini juga berlaku kebalikannya. Untuk cinta dunia, seseorang tak mesti menjadi kaya raya terlebih dahulu. Karena zuhud memang berurusan dengan hati, bukan secara langsung dengan alam bendawi.

Oleh : Mahbib (NUOnline)

Keutamaan Puasa 9 Dzulhijjah

Islam Media News.com ~ Rasulullah Saw bersabda:



صُوْمُ يَوْمِ عَرْفَةَ يُكَفِّرُ ذُنُوْبَ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً


"Puasa pada hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun: setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR Muslim)

Penting untuk diketahui bahwa hari Arafah itu jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahunnya. Mengenai hal ini tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Tahukah Anda mengapa dikatakan hari Arafah?

Begini. Dinamakan demikian karena pada malam tarwiyah Nabi Ibrahim a.s. pernah diperintahkan di dalam tidurnya untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya, Ismail. Sehingga pada hari itu ia menjadi bimbang, apakah mimpi itu benar-benar perintah yang datang dari Allah atau hanya sekedar mimpi biasa. Pada malam berikutnya, mimpi yang sama terulang kembali, sehingga ia pun menjadi 'arafah (mengetahui, meyakini) bahwa apa yang dilihatnya dalam mimpi itu benar-benar perintah dari Allah Swt. Untuk itu disebutlah hari itu sebagai hari Arafah, yang di dalamnya terdapat keutamaan dan kemuliaan yang sangat besar.

Bagi orang yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, maka pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) disunnahkan baginya untuk menunaikan puasa. Selain memperoleh pahala ittiba'us sunnah (mengikuti sunnah Nabi Saw), ia juga akan memperoleh keutamaan yang sangat besar, yakni peleburan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits di atas.

Dalam menjelaskan makna "menghapuskan dosa selama dua tahun: setahun yang lalu dan setahun yang akan datang", Imam al-Mawardi dalam kitab al-Hawi al-Kabir berkata:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغْفِرُ لَهُ ذُنُوْبَ سَنَتَيْنِ. وَالثَّانِي: إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَعْصِمُهُ فِي هَاتَيْنِ السَّنَتَيْنِ فَلَا يَعْصِي فِيْهِمَا


"(Kemuungkinannya ada dua): Pertama, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu selama setahun dan pada tahun berikutnya. Kedua, Allah akan menjaganya dari perbuatan buruk pada kedua tahun tersebut."

Di sisi lain, mayoritas ulama berpendapat bahwa seseorang yang sedang berada di padang Arafah dalam rangka menunaikan ibadah haji pada hari itu dimakruhkan untuk menunaikan puasa. Mengapa? Karena puasa bisa membuat fisik menjadi lemah, dan dalam keadaan kondisi lemah semacam itu seseorang bisa malas untuk berdoa, padahal hari itu merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa dan memohon kepada Allah.

Imam Asy-Syairazi dalam kitabnya al-Muhadzdzab berkata:

ولأن الدعاء في هذا اليوم يعظم ثوابه والصوم يضعفه فكان الإفطار أفضل ويستحب

 
"Karena berdoa di hari Arafah adalah waktu yang mustajabah, sedangkan puasa bisa membuat kondisi fisik lemah dan lemas, maka lebih utama bagi jamaah haji di Arafah untuk tidak berpuasa."


Abu Qatadah berpendapat bahwa hal itu (berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang menunaikan ibadah haji) boleh saja dilakukan, selama tidak membuat pelakunya menjadi berat untuk berdoa. Sedangkan Atha' pernah berkata, "Aku berpuasa di musim dingin dan tidak berpuasa saat musim panas." Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Aisyah ra dan Ibnu Zubair menjalan puasa pada 9 Dzulhijjah, sedangkan keduanya sedang berada di padang Arafah.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa kemakruhan berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi orang yang sedang menunaikan ibadah haji lebih kepada alasan kekhawatiran hal itu akan membuatnya tidak sanggup untuk berdoa.

Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Ibnu Umar ra pernah berkata, "Aku pernah menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah Saw dan beliau tidak berpuasa pada hari Arafah. Juga pernah (berhaji) bersama Abu Bakar, di mana ia juga tidak berpuasa. Demikian juga (berhaji) bersama Umar dan Utsman, yang kesemuanya tidak berpuasa pada hari itu. Untuk itu, aku tidak berpuasa pada hari, namun aku juga tidak memerintahkan dan tidak pula melarangnya."

Keutamaan 10 Hari (Pertama) Bulan Dzulhijjah

Islam Media News.com ~ Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah mempunyai keistimewaan yang tak ternilai. Kok tahu? Ya, karena Allah Swt telah mengisyaratkan hal itu di dalam al-Qur'an. Perhatikanlah firman Allah berikut ini:
 
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
  

"Demi fajar dan malam yang sepuluh." (QS. al-Fajr: 1-2)

Pada ayat di atas Allah telah bersumpah dengan menyebut sesuatu yang telah diciptakan-Nya, yakni fajar dan malam yang sepuluh. Tentu saja Allah tidak akan bersumpah dengan sesuatu melainkan karena sesuatu itu memiliki makna yang sangat penting. 
Para mufassir, semisal Imam Ath-Thabari dan Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan malam yang sepuluh  adalah malam-malam di sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Lebih jauh Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang menyatakan demikian adalah Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid dan sejumlah ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf.


Di dalam al-Qur'an Allah Swt juga berfirman:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ لِيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِيْ أَيَّامٍ مَعْلُوْمَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيْمَةِ الْأَنْعَامِ

 
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." (QS. al-Hajj: 27-28)
Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa yang dimaksud al-Ayyam al-Ma'lumat adalah hari-hari yang sepuluh dari bulan Dzulhijjah. Demikian pendapat yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsir beliau.

Dengan demikian, bulan Dzulhijjah memiliki sepuluh hari yang sangat utama, yang oleh al-Qur'an disebut sebagai al-Ayyam al-Ma'lumat.
Sedangkan terkait dengan keutamaan dan keagungan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, hal itu didasarkan pada penjelasan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
 
 
"Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Abu Dawud dan  Ibnu Majah)
Perhatikanlah hadits di atas. Di dalamnya Rasulullah Saw menjelaskan bahwa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan saat beramal saleh yang sangat dicintai Allah. Dengan kata lain, Allah sangat menyukai orang-orang yang melakukan amal saleh pada hari-hari itu. Amal saleh yang dimaksud di sini adalah dalam berbagai macam bentuknya. Bisa dalam bentuk puasa, membaca al-Qur'an, membaca tasbih, tahmid, tahlil, shalawat, dan berbagai macam dzikir lainnya, termasuk juga bersedekah dan amal-amal saleh lainnya yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang banyak.


Bahkan dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa amal saleh yang dilakukan pada hari-hari itu disejajarkan dengan amalan jihad di jalan Allah, bahkan lebih tinggi dari itu.


Perlu diketahui bahwa amal saleh mempunyai makna luas dan universal, karena aspek perbuatan yang mempunyai nilai manfaat bagi diri sendiri dan orang lain termasuk amal saleh yang mendapatkan ganjaran jika diiringi dengan rasa keimanan dan keikhlasan karena Allah Ta'ala. Akhlak dan perilaku mulia terhadap sesama tanpa memandang siapa pun dia juga merupakan inti dari amal saleh.


Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan hari Nahar (tanggal 10 ditambah hari-hari tasyrik tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah), adalah hari-hari yang penuh dengan keutamaan yang mestinya menjadi kesempatan bagi kita, baik yang berhaji maupun yang belum mempunyai kesempatan memenuhi panggilan haji, untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Secara khusus pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) kita disunnahkan untuk menunaikan puasa Arafah yang keutamaannya dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Rasulullah Saw bersabda:
صُوْمُ يَوْمِ عَرْفَةَ يُكَفِّرُ ذُنُوْبَ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً

"Puasa pada hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun: satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang." (HR Muslim)
Oleh karena itu, selama masih ada kesempatan yang diberikan Allah kepada kita, mari untuk memanfaatkan hari-hari pertama bulan Dzulhijjah ini dengan penuh keikhlasan dan harapan akan ridha-Nya.
Diberdayakan oleh Blogger.